Sabtu, 08 Agustus 2015

Ketika Ramadha Bercerita, Sebuah Dialog Hati Pada Lahfah

Ketika Ramadhan Bercerita
Sebuah Dialog Hati Pada Lahfah

“Ramadhan Mubarok”
Teruntuk My Dear



















29 Juni 2015
Assyafiiyah









Cinta Di Langit Ramadhan
Di bulan ramadhan aku memulai bercerita, karna aku merasakan seperti ada takdir bertamu dalam hatiku, mengetuk pintu dan menyapaku, saat itu mataku penuh dengan sisa-sisa tangis yang membawaku pada masa lalu yang begitu buram, meskipun begitu, aku harus tetap teguh berdiri pada hanyutnya kenangan, karna tidak lagi memberiku masa depan yang cerah secerah harapan yang pernah aku sisihkan dulu, dan tak selamanya masa lalu ini menyisakan derai derai penyesalan, bagiku mungkin satu hikmah yang harus kuikhtiarkan dalam sujud, satu bibit baru yang harus ku lumuri dengan ketabahan hati untuk merawatnya, karna aku percaya, takdir yang bertamu ini adalah cinta yang pernah aku pinta dalam doaku

Aku percaya bahwa tamu ini adalah takdirku, meskipun Tamu itu seperti bintang menggantung pada langit, yang kulihat penuh pesona menghibur gelisahnya hati, aku mencoba hirau pada suasana ini, tapi tetap saja menemukan pintu untuk masuk dan mengikatku pada resahnya diri, tapi untuk apa aku bersedih, sedangkan tamu itu segan menyapaku penuh lembut. aku hanya menganggukkan kepala, mendengar lirih dari liyuknya nasib yang menimpaku, tidakkah aku meyakini ini semua, kalau apa yang aku rasakan adalah bingkisan indah dari tuhan, tapi mampukah aku buka bingkisan itu sendiri, dan haruskah aku megadu pada seorang yang sedang bercerita di atas cerita allah, tidakkah aku mengetahui, kalau kita diceritakan dalam kitabnya, apakah mungkin ini hanya menjerit dalam kalbuku saja. yang selalu ragu pada bingkisan itu,

oh tidak...!! Ini punyaku ini takdirku ini hadiah untukku saat itu juga aku hanya diam dalam pasrahku, sehingga tamu segan menyuruhku tuk membukanya, aku buka perlahan seiring dengan ikhtiar dalam sejudku diatas sejadah, saat itu kuluangkan waktuku untuk berharap yang terbaik, karena aku yakin ini adalah Cinta di Langit Ramadhanku


















30 Juni 2015
Assyafiiyah



Aku Dan Tujuh Hari di Langit Ramdhan

Di bulan ramadhan aku memulai bercerita, pada sebuah pena dan secarik kertas, berisikan tinta yang bermuara perasaan, entah harus dengan apa aku memulai menulis, tapi gendang telinga ini serasa mendengar rintihan, dan serasa aku menyentuh pada sebuah apa yang kulihat, namun samar pada remangnya mata, saat itu hanya duduk membisu tiada gerak pada jasmaniku, tapi ntah kenapa semua ingatanku membeku tuk memulai tulisan ini, hanya sebuah cerita di bulan ramadhan, itu aku dan dia, mungkin jika aku tanya pada hati tentang dirinya, pasti hati kecilku  menjawab “itu dia yang harus aku pertahankan”, karena ini bukan cerita dalam lembaran harian, namun sebuah kisah hidupku di bulan yang penuh dengan limpahan nikmat ini.

The first day...!!
Aku bercerita pada hati, inikah rasanya mencinta, ataukah hanya sekedar ingin memilikinya, atau juga hanya ingin mengenal sikapnya lalu kau akan memilihnya. Tidak...! Itu bukan aku, karena ini hari pertama mungkin harus aku yang memulai menyapanya dalam batin, melihatnya dengan mata tertutup, dan menyentuhnya dengan sebait doa, sehingga dia akan merasakan hal yang sama, namun akankah dia merasa itu, iya...!! Hatinya memalingkan karena dia tau pada tempat yang sesuci ini, cerita ini pertama di langit ramadhan.

The next day...!! Aku bercerita pada hati, saat aku mendiam pada kebisuan, aku merasakan getaran yang tak dapat membuatku mengeligir, malaikat bersaksi atas perintahNya, mengetahui pada isyarat yang mengurung dalam relung hati yang dalam, inikah titahnya yang kurekam, “Itulah pilihanmu sendiri, rasakan namun tiadakan beban” aku yakin dan tak sedikitpun membuatku beban, karena malaikat mencintai perintahNya, maka aku hiasi dengan ketulusan pada “Tujuh Hari di Langit Ramadhan”

The next day...!! Sepintas jejakku pada tarian pena yang mengugatku untuk selalu bercerita, sampai selembar kertas itu penuh dengan warna warni kasih sayangmu, akupun menceritakan pada hati, saat itu, aku dan dia masih ingin menjadi pemeran utama dalam kisah kisah yang di tulis tuhan dalam kuasanya “tujuh hari di langit ramadhan”.

The next day...!! membawaku pada hari yang berlalu, itulah ingatanku pada kenangan, yang kutulis pada harian selanjutnya hanya untuk bercerita pada sahabat hati bahwa aku merindukan senyumnya. Ramadhanku penuh dengan sentuhan kasih sayang dari tuhan, memberiku arti ketulusan saat melihatnya ketika dekat,  mengajariku tuk bersabar saat tak lagi mata memandanginya, tersurat pada kertas ini kalau aku harus menjaganya dengan senandung doa, dan memberikannya sekuntum doa lalu ku titipkan pada ”tujuh hari di langit ramadhan”.

The next day...!! Kado bersegi panjang dan setipis kain sorban, itulah genggamanku melawan penatnya jiwa yang merindu. Nah...!! Caraku bercerita pada kertasku mungkin akan berbeda, aku harus membohongi perasaan ini, biar kita berpisah, biarkan sementara saja bersua, kenapa harus merasa gundah, kalau saja sorban ini menjadi rais wajahnya, menjadi sudut senyumnya yang senantiasa dia sunggingkan, menjadi bingkai rautnya yang anggun, terima kasih “tujuh hari di langit ramadhanku”.
The next day...!! Antara aku dan kamu, melihat masa saat kita masih mendengar seruan hati dan janjinya diri, sampai satu dari kita merasa sakit di ulu hati, dalam ceritaku, aku mengutarakan perasaan dari pada logika, karna aku tau, kamu butuh perhatian, sehingga dengan caramu seperti itu membuatku bisu pada sebait kata yang tertulis di kertasku, sedangkan hasrat dan rasa ibaku padamu kian menjeru pada nada nada cinta dalam “tujuh hari di langit ramadhan”.

The next day...!! Kata hati mengindahkan bait-bait terakhirku, antara aku kamu dan tujuh hari bercerita di langit ramadhan, “Semoga Allah merestui hubungan kita” Aminn




























2 juni 2015
Assyafiiyah




Antara Juni & Langit Ramadhan
Dan bila nanti aku di tanya, kapan dan bagaimana, mungkin aku akan menjawab “Antara juni dan ramadhan”, karena aku tau, bagaimana memilih jawaban yang pasti pada setiap pertanyaan itu,

Bulan juni adalah bulan dimana aku merasakan patah, sehingga aku terjatuh, untuk bangkit saja masih membutuhkan uluran tangan, melemah di atas alas bumi, mencium sajadah dengan kening, seakan menerima nasib, olehnya aku ditertawakan rumput rumput, mungkin karena aku keterlaluan, iya aku sadar itu, semua kisah yang kujalani dengan rusuhnya hati, sampai akhirnya ada tangan yang menjamahku untuk bangkit, menyuruhku untuk berubah di mulai bulan juni. Waktu itu aku masih berharap menjadi manusia yang tegar, manusia yang teguh, sampai detik akhir bulan juni. Tapi syukkurlah semua insan dekat pada diri yang lemah sepertiku, mungkin utusan hati untuk hati, pilihan tuhan untuk kunikmati, meski dengan rasa yang perih, ku sadari ini cukup di bulan juni.

Sejurus kemudian sekata dengan hati, bahwa Juni adalah bulan dimana aku merasa jatuh, sehingga aku patah, untuk merebahkan sayap sayap cinta di pundakku serasa tak kuasa, hanya berdzikir menanti takdir tuhan, waktu itu, aku jatuh akan cinta, terjatuh melihat insan, seperti adam melihat hawa, penuh pesona dimasanya, dimana hawa adalah tulang rusuk adam, dan bersatulah mereka saling melengkapi kekurangan, dan menghargai perbedaan, kini aku mulai berfikir pada sayap yang kutebarkan , kenapa bulan juni aku di tepiskan angin. apakah karena sayapku tak lagi berkibar di angkasa, apakah karena terlalu tinggi untuk aku terbang, ataukah karena impian untuk mengarungi petala langit terlalu menimbun, hingga akhirnya aku jatuh sampai terasa patah, bisakah aku mengobati ini semua, sungguh di bulan juni ini merasa dua hal yang sama tapi beda,

Masih dengan bulan yang sama, “Juni” saat pertama aku merasakan patah dan jatuh, merasakan jatuh dan patah, akhirnya bulan ini menjawab, dan aku meyakini bulan juni adalah bulan berkah yang pernah aku lalui dari juni sebelumnya. Karena banyak hal yang dapat mengobati perasaanku, yang dulu jatuh dan patah, hingga merasa patah dan jatuh itu, seperti ada bias cahaya yang datangnya dari hati, menyinari duniaku, terasa pulih kembali, sayap sayap yang dulu patah kini mulai pasrah, aku yang dulu jatuh kini satu hikmah yang harus ku tempuh. “My Juni”
()()()
Dan bila nanti aku di tanya tentang cerita di bulan ramadhan, mungkin aku akan menjawab “Di antara juni dan ramdhan”  tapi semua orang pasti menilai, bahwa sikap dan caraku tidak seperti aku hidup di bulan juni, iya jelas, aku seperti itu karena aku ingin hidup di antara juni dan ramdhan, seperti sekarang aku merasa bermusafir ke bulan nan suci, membawa sepintas jejakku di bulan juni ke ramdhan, menceritakan semua tentang bulan juni, melampirkan catatan cerita pada ramadhan, dan mengadu nasib di bulan ramdhan, saat di tanya, kenapa ku harus melakukan ini, karena aku sadar, inilah  “aku di antara juni dan ramdhan”

Ramadhan bulan hikmah bulan penuh berkah, ketika semua menjalani dengan rasa sabar dan rasa syukkur, allah melihat sujud sujud di antara hambanya. Ramadhan bergelimang kenikmatan, gema suara indah dan syahdu saling bersahutan, kalimat kalimat suci di ujung corong corong masjid kian terdengar, itu rahasia semua orang, pahala tersedia baginya yang mengamalkannya. Indah bukan

Kata cinta tentang bulan ramadhan, memberikan waktu untuk menyisihkan perdamaian, mewarnai hidup dengan ketentraman, antara aku dan dia, mengenal rasa di bulan juni, mengabadikannya sampai kebulan ramadhan, menceritakannya di bawah naungan, berbagi ketulusan dalam perpisahan, semua kenangan di kenang di waktu sunyinya malam bersama rembulan di bulan ramdhan, rahasia senyum terukir di lembaran ramdhan, ”indahnya hidup di antara juni dan ramadhan”

Ramadhan bercerita tentag cinta, tentang cinta yang kumiliki, tentang cinta yang kita jalani, tentang cinta yang mereka ketahui. Bahwa ketika kita berfikir, nikmat tuhan yang berupa cinta, sungguh tiada rasa yang sama seperti rasa itu, coba kita bayangkan hadirkan delusif kita, seakan kita merasakannya, seperti kita merasa sedih, merasa bahagia, merasa kecewa, merasa cemburu, merasa pada rasa ciptaan allah yang dihias pada kalbu, apapun itu, nah...!! Pernahkah kita merasakan itu, ataukah kita yang menjadi musebabnya orang merasakan seperti itu, “iya” perlahan hatimu menjawab, jujur dan tulus mengucapkan itu, sungguh terasa nikmat bila kita di anugrakan mencinta dan di cinta, tapi adakalanya kita membatasinya, meskipun semua orang akan di singgahi hal seperti itu, ku harap hanya mereka yang bisa memiliki rasa itu, bukan karena kekasih ataupun sahabat hati, pekerjaanpun bisa membuat kita merasa perasaan seperti yang ku sebutkan tadi, yang mencinta silahkan mencintai, yang mencita-citakan silahkan citrakan diri tuk meraihnya, aplikasikan diri kalian pada sebuah impian, setinggi tingginya, sejauh jauhnya, seluas luasnya, tapi ingat cinta dan cita akan bersamaan, cita tanpa cinta mungkin hanya membuat kita membenci, dan cinta tanpa cita mungkin akan membuat diri kita tersakiti, pikir dan pikir, sungguh indah, serasa bermusafir, meski hanya hidup diantara juni ramdhan.
()()()

Ramadhan, juni bulan inilah yang menceritakan aku dan dia, sehingga kita melamun pada sebuah impian, menebarkan kasih sayang, yang bermuara ketulusan, berhulu keihklasan di setiap langkah.

Ramadhan, juni, bulan inilah yang merayuku untuk mencinta hambanya, sehingga kekurangan diri kini telah nampak, dimana aku membutuhkannya untuk melengkapi, sempurnakan hidupku, luangkan waktumu seperti aku meluangkan waktu untuk mengingatmu.

Antara juni dan ramadhan, adalah bulan pertama aku mencintainya, menyentuhnya dengan senandung doa, sungguh hal terindah yang pernah kumiliki, biar masa lalu, tak peduli masa lalunya, ini kisahku dan dia, yang kini perlahan melangkah menuju masa depan, tidak juga kita melangkah secepat mungkin, karena kita tahu arah, dimana yang berduri dan tidak, olehnya aku merasa nyaman dengan seorang yang ikhlas tuk kutuntun. “My Ramadhan”













Arti Lahfah Di Langit Ramdhan
Di bulan ramdhan, aku memulai bercerita, saat sembilan juni kemarin, aku dan hati seperti senada dengan ciptaan allah pada rasa cinta, kugenggam dan kudekap dalam naluri, dengan begitu, aku sudah sesiap mungkin menjadi pemimpin hati yang dulu gundah, aku dan hati kini mengerti pada sebuah rasa yang allah titipkan pada kehidupan, sebuah rasa yang ingin kugenggam sampai akhir hayat, entah itu harus melalui beberapa laluan allah, dengan begitu adalah jalanku menuju pada kedewasaan diri, pada satu usia yang harus kusadari, bahwa tak selamanya kita merasakan “Arti Lahfah Di langit Ramadhan”

Sedemikian kata yang kutulis penuh dengan cerita hati, curahan hati, bahkan pada kisah yang bermuara kesedihan hati,  aku dan hati hanya untuk menatap masa depan pada sebuah kertas, sehingga menjadikanku pada cara bagaimana berimajinasi, mengingat dan mengenang masa lalu, dengan segenap rasa yang tumbuh di hati saat ini, aku merasa “Arti Lahfah Di Langit Ramadhan”
Seperti aku terperangkap pada sepasang insan yang allah khususkan untukku, karena akhir-akhir ini, aku merasakan sesuatu yang baru aku temui pada sebuah ikhtiar dalam istikhorohku, apakah ini suara kecil yang berbisik pada kalbu, bahwa aku memang benar hidup untuk memberi sejuta rasa yang tulus untuk insan ciptaan allah, akankah ini serupa dengan bait-bait kata yang kuselipkan pada doaku, meminta yang indah meski jauh dari sempurna, memilih yang terbaik meski jauh tak pantas, meminta sucinya diri meski hina, aku dan hati menyakini ini semua, kalau semua rasa yang berbunga ini dari “Arti Lahfah Di Langit Ramdhan”

Lahfah..!! Arti kerinduanku, yang membuatku terpaku pada dunia asmara, hati ini merasakan kerinduan yang bergelumat di langit ramdhan, setelah beberapa hari ini kupijaki bersama aura insan sahaja di bumi nan suci ini (pesantren), tutur kata nan berisyarat, ratapan mata nan bersinar, semerbak sinar mentari ditarian senja, biasnya menyinari sisa sisa pada dedaunan yang kering pada ujung ranting, memukau pada hamparan langit dengan emasnya, menyoroti kehampaan pada hambanya, sungguh indah nan anggun, terselubung purdah pada kepala muslimah, mengikatku pada niat nan agung, tuk memikat rasa yang seharusnya aku miliki itu, perasaan ini mungkin hanya pada hati dan aku yang selalu membuat batin bersyukur akan nikmat yang allah limpahkan untukku, mungkin menyadari waktu adalah jalan pintasku, menghargai ikatan pada yang suci, bahwa aku meridukanmu dalam naungan pesantren.

“Arti lahfah di langit ramadhan” enam huruf sempurna pada kata itu, dan enam makna dalam bingkai kata-katanya,

(L) Leluasa bila rasa itu singgah pada insan sepertiku
(A) Adakalanya aku merindu pada insan sepertimu
(H) Hanya sebuah arti cinta yang mengikat dalam relung hati kita.
(F) Fana, bukan hanya di dunia fana tuk mempererat kasih sayang ini,
(A) Allah mengetahuinya, dimana Allah akan merencanakan yang terbaik buat kita
(H) Hanya dengan sekuntum doa, aku meyakini itu semua, bahwa lahfah adalah serpihan nikmatNya yang berarti “Kerinduan”

Setelah aku dan hati bedialog tentang arti lahfah, akhirnya kutemukan satu bingkai kehidupan yang meraga, sepenunya milik hati, seutuhnya dalam diri, selurunya menjadi hiasan untukku, “Arti lahfah di langit ramdhan” seperti satu cara tuhan menjaga nabi yusuf pada sitti zulaikha di masanya, dimana sitti zulaikha menjaga batin untuk nabi yusuf yang di rindukan, sedang nabi yusuf, menjaga amanah seorang pemimpin, “perpisahan adalah perindu sejati”.

Sampai kapan aku mengakhiri cerita ini, sedangkan dalam hujjah cinta masih melekat, dan banyak cerita yang harus kulalui, banyak kata hati yang masih belum tertulis dalam cerita ini, bahkan waktuku untuk mencurahkan ungkapan indah ini harus meminta ikatan batin, memohon restu pada ilahi, apakah harus aku akhiri cerita ini dengan kata “sudah” atau tidak deangan kata “cukup” namun sudah cukupkah aku mengukir cinta yang dia berikan, bukannya dia juga senang berbicara pada selembar kertas, dan berbagi waktu untuk berkemas kedunia lamunan, sedangkan setiap lamunnanya Ia catat pada buku harian. Mungkin begini bila kita sudah saling mencintai, harus merasakan kerinduan, entah dengan cara apa mereka melampiaskan rasa rindu itu pada kekasihnya, dan ini sudah caraku merindu, caraku melihat senyum dan tawanya melalui jendela hasil karyaku, meskipun tidak setiap saat aku melihatnya, tapi merasakan dia menjaga mata dan hatinya untukku amat terasa bahkan tercantum di sanubari, kalau aku harus menjaga dengan cara yang sama, sungguh membahana “Arti lahfah di langit ramadhan” 
Detik ini juga...!! Aku bingung pada sebuah judul yang menjulang di ujung kertasku, “Ketika ramadhan bercerita” sedangkan tak satu katapun yang tertulis untuk  “Setia” dan tak sedikitpun menuliskan janji hati yang bermaksud “Harapan”, haruskah kuungkap sekarang, ku lantunkan pada sucinya bulan, pada arti lahfah di langit ramdhan, pada seikat batin antara aku dan tuhan, pada semua hasrat yang telah ku luangkan, pada suasana pagi yang masih buta, pada sebuah kamar bergubus kotak, yang semuanya terhias di bulan ramadhan, haruskah...? “Tanda tanya” masihkah aku berfikir, mengutarakan ingin setia dan memberikan satu harapan pasti, tidakkah aku berada di bawah naungan tuhan, di sebuah dunia setipis kertas, di secercah daun kelor dimata allah. tapi aku yakin allah akan menuliskan cerita ini terlebih dahulu, setia dan harapan adalah milik manusia untuk allah, jika itu bisa, dan melakoninya dengan baik, insyaallah allah akan setia memenuhi harapan hambanya, terima kasih “Arti lahfah di langit ramadhan”

Arti lahfah dilangit ramdhan, sebuah kata yang sekarang menyelimuti hati dan fikiranku, mendengung lirih pada muaranya jiwa, mengajakku kedunia mimpi, menghantarkanku ke sebuah kota kecil yang sederhana, menjulurkan arti seperti lilin api, meski cahaya yang redup dengan ikhlasnya menyinari ruang yang cukup, bukan tentang perasaanku, tapi tantang arti namamu, menjadikanku selalu merindukan rais di jilbabmu, senyum muslimah pada muka pucatku, terima kasih kau beri aku cinta, dan aku mencintaimu biarkan aku merindu.

Al-hamdulillah
Assyafiiyah